Perih

Perih juga,
Perih juga,
Di sini, sedang kurayakan patah hati yang sedang biadab-biadabnya.
Dan, aku senang.
Luka yang kau toreh begitu cantik menusuk ulu hati.

Lalu aku mulai terbiasa.
Diriung sendiri, dipeluk gelap.
Namun aku muak!


Hampa mulai terasa...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tekadmu (sebuah puisi)

Bukan Salah Jurusan, tapi Memang Aku Saja yang Otak Udang diary#2